Diarsipkan di bawah: Sekitar kita
kispa.org -Peringatan 60 Tahun Tragedi Nakbah
PALESTINA, BAGAIMANA BISA AKU MELUPAKANMU
oleh : Taufiq Ismail
Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh
menderu, serasa pasir dan batu bata dinding kamartidurku
bertebaran di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah,
Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat
sebesar saputangan lalu di Tel Avis dimasukkan dalam fail lemari
kantor agraria. serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan
katulistiwa, yang dirampas mereka,
Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kekuatan reptilia bawah
tanah dan sepatusepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita
semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil
belajar tajwid Al-Quran 40 tahun silam, dibawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi
air
mataku,
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu,
Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka
menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi
pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa
anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan
tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan
rantai amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka, penyeret
tubuh si zalim ke neraka,
Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al Qassem, Harun Hashim
Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang
dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami semua berdegup
dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,
darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi
‘Allahu Akbar!’
dan
‘Bebaskan Palestina!’
Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta,
menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki
tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara.
membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia,
membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat,
Ahmad Yassin dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia; doakan
kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang
menapak jalanNya, yang ditembaki dan kini dalam penjara.
lalu dengan kukuh kita bacalah
‘la quwwata illa bi-Llah!’
Palestina. bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh. bila diukur kilometernya beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha begitu merdu
Serasa terngiang-ngiang di telingaku.
1989
diambil dari http://www.kispa.org/
KISPA
Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina

"save palestine!"
nb : untuk tragedi di Palestine, Sabtu 27 Desember 2008, hanya dua hari menjelang tahun baru 1430 Hijriyah. Pukul 11.30 menjelang azan Zuhur di Jalur Gaza, Palestina. Dukamu adalah duka kami…banyak doa untuk kalian wahai para syahid dan syahidah, Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man-nashir
Diarsipkan di bawah: Sekitar kita
Kerjaan yang gak habis-habis jadi bikin gak sempet nulis. Padahal mo ngajak temen2 ke GreenFestival bareng tgl 18-20 April Kemaren. Walau ada yg gak sempet dateng, moga2 sedikit cerita di bawah ini bikin temen2 ngiler dan menyesal gak dateng ke acara kemaren, hehe… tapi yg paling penting sih semoga bisa semakin perduli terhadap Global Warming/Pemanasan Global.
Kenapa bumi makin panas? begini…..ketika bumi menerima panas dari matahari, secara alami sebagian panas akan terperangkap di atmosfer akibat adanya beberapa jenis gas. Gas-gas yang menangkap panas tersebut dikenal sebagai Gas Rumah Kaca (GRK) karena kerjanya mirip rumah kaca (greenhouse), dimana suhu didalamnya diatur agar cukup hangat sehingga tanaman dapat tumbuh. Terperangkapnya panas oleh gas-gas di atmosfer dikenal dengan istilah ‘Efek Rumah Kaca’. Sebenarnya efek rumah kaca di perlukan agar bumi cukup hangat untuk didiami. Sayangnya aktifitas manusia membuat konsentrasi GRK semakin tinggi dan menyebabkan suhu permukaan bumi semakin panas sehingga terjadilah perubahan iklim (climate change).
Emisi dari pembangkit listrik dan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil -seperti minyak bumi dan batubara- merupakan sumber utama Karbondioksida (CO2). Gas ini merupakan GRK yang mempunyai pengaruh besar terhadap terjadinya perubahan iklim. Karbondioksida juga terkandung dalam jumlah besar pada pohon, sehingga kebakaran dan penebangan hutan menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK.
Nah acara Green Festival ini sepertinya sosialisasi pengenalan akan penyebab dan dampak pemanasan global sekaligus ajakan bagi semua untuk perduli mencegah pemanasan global. Dalam acara ini semua diajak untuk datang…. Ayah, Bunda, anak, adek, kakak, nenek, tetangga, kenalan atau Wajib Pajak juga boleh, hehe…. terlihat bahwa panitia sengaja menyediakan Kids Zone untuk acara ini, jadi anak-anak dapat bergembira setelah melihat pengenalan pemanasan global dalam area pameran. Wah sayangnya Rozan gak ikut karena baru sembuh dari sakit, khawatir kecapean, klo ikut pasti senang bisa ikut foto bersama badut Pohon seperti bunda di bawah ini :
Foto tadi gak penting ya….?
oke…oke….mulai serius nih..
Area pameran dibuat seperti bentuk rumah kita, ada ruang garasi sampai dapur. Di setiap ruang diperlihatkan dan diberi contoh cara pencegahan pemanasan global. Misalnya, di Garasi, lebih baik tidak ada mobil dan digantikan sepeda. Selain mengurangi emisik, area garasi bisa untuk bermain anak-anak, jadi dobel manfaat deh… –> klo ini saya blum setuju, maaf ya, soalnya punya mobil butuh juga, maksimal 1 deh, soalnya kebayang kalo hujan2 anak butuh ke rumah sakit. Trus, di ruang tamu atau keluarga, dapat dilakukan dengan penghematan pemakaian listrik, misalnya menggunakan lampu yg hemat listrik, atau menggunakan timer TV. Yang paling ditunggu adalah ruang dapur, “Wah..ini mah ruangan bunda nih…” komentar ayahnya rozan sambil perlahan menjauh dan membiarkan saya bebas bereksplorasi, hehe…soalnya ini yang paling erat dengan kehidupan ibu2. Contoh ruang ini misalnya microwave yg pemakaian listriknya banyak, jadi pakai microwave sama dengan boros listrik sama dengan nambah bikin panas bumi (karena emisi dari pembangkit listrik tinggi)….jadi ibu2, gak usah pake microwave ya, kebetulan saya gak pakai juga karena mahal, hihi… Trus, katanya kita lebih baik pakai teh selain teh celup, dan penggunaan sabun cair utk mencuci piring lebih baik daripada yg bukan sabun cair, karena penggunaan air yg lebih sedikit saat membilas. Dan yg terakhir, diperlihatkan bagaimana cara membuat kompos dari limbah rumah tangga. Dengan membuat kompos, dapat mengurangi sampah yang berarti pula mengurangi pelepasan gas metana (CH4) dari sampah organik yang artinya mengurangi pemanasan global.
Ada satu lagi nih, selain di rumah yg sering kita lakukan adalah di Kantor. Yup, kadang kita gak sadar suka memboros2kan kertas. Apalagi klo verbal surat bolak balik gak bener2, atau pas printer ngadat, cetakan eror dan akhirnya kertas gak terpakai. Selama ini saya suka memanfaatkan kembali untuk notes, tapi notes yg saya buat tidak sebanyak ’sampah’ yg dihasilkan, jadi bingung dikemanakan. Setelah ikut green festival ini udah berkurang nih bingungnya, setelah kertas di hancurkan di penghancur kertas, ingat, ini dokumen negara, jadi musti dihancurkan klo gak terpakai -kecuali yg bukan PNS seperti saya- lalu bisa dikirim kertas yg tidak terpakai kesini :
And last but not least, hemat2lah air, karena tahukah anda…..
Tapi bukan berarti mengurangi mandi sehari jadi sekali aja lho, bisa2 panuan, hehe…tapi pakailah air secukupnya, klo bisa air hujan kita tampung untuk menyiram tanaman. Dan buat sumur resapan untuk mengikat air dalam tanah.
Acara kunjungan ke Green Festival kemaren akhirnya ditutup dengan hasil belanjaan 2 buah kaos lambang WWF Indonesia, yg gambarnya lucu -panda dan badak- klo yang ini ayahnya yg semangat beli, karena beliau panda mania dan mantan member WWF Indonesia. Di tambah 2 kantong plastik terbuat dari singkong yang degradable dalam 10 minggu, sangat inovatif dan ramah lingkungan…TOP deh!


